Ayam hutan hijau, terutama yang jantan, bagai gadis cantik yang “sok jual mahal”. Begitu indah dipandang mata, namun sulit untuk didekati karena sifatnya yang liar.

Kepopuleran ayam hutan hijau meningkat akhir-akhir ini. Sebab dia banyak digunakan sebagai pejantan untuk menghasilkan ayam bekisar. Selain itu orang juga tertarik untuk memelihara karena sosoknya, terutama warna bulunya.

Mempesona Namun Liar

Bila diamati sosok yang jantan, maka dari jengger sampai ke ekor penuh dengan warna-warna yang beragam dan indah. Jenggernya yang tidak bergerigi berwarna unik, campuran ungu, merah, dan biru muda. Warna bulunya sendiri dominan hijau terang dengan bintik-bintik kuning di bagian sayapnya. Bila terkena cahaya, timbul warna-warni seperti pelangi.

Sayang, sosok si betina tidak semenarik yang jantan. Warna bulunya biasa saja, cokelat dengan bintik-bintik kuning pada bagian kepala sampai leher. Walau demikian, ayam hutan betina ini juga dibutuhkan untuk kelanjutan generasinya.

Ukuran badannya termasuk kecil bila dibandingkan dengan ayam kampung, yang jantan sekitar 30 cm dan yang betina 25 cm. Menurut Ir. Buyung Taurin, ketua jurusan Reproduksi dan Kebidanan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, sifat ayam ini merupakan peralihan dari sifat burung ke ayam, yakni mencari makan dan bertelur di “bawah” namun tidurnya di pohon-pohon. Selain itu sifatnya liar sekali dan sulit dijinakkan. Meskipun sudah lama ditangkarkan, bila dipindahkan ke kandang baru dengan lingkungan yang baru pula ia akan kembali liar. “Kalau diganggu bisa stres dan akhirnya mati”, ujar Ali Thamin, SH, penangkar ayam hutan hijau di Jakarta.

Suara ayam ini juga mempesona. Frekuensi suaranya rapat dan beramplitudo tinggi. Karena suara uniknya ini pula ayam hutan hijau jantan banyak dicari untuk dikawinkan dengan ayam kampung betina, agar diperoleh ayam bekisar yang bersuara bagus.

Perawatan Ayam Hutan Hijau

Ayam hutan senang pada udara yang tidak terlalu lembap, dengan temperatur sekitar 27oC. malah musim bertelurnya hanya pada saat musim kering, 2 – 3 kali setahun. Pakan sebaiknya berbentuk butiran, seperti bentuk makanan di habitat aslinya, berupa jagung, kacang hijau, ketan hitam, dan gabah ditambah campuran pakan ayam ras dan ayam kampung dengan komposisi 1 : 1.

Ali Thamin memberi ayam ayam-ayam hutannya beras merah, jagung, kacang-kacangan, dan hijauan seperti rumput, kangkung, daun jambu, atau daun pepaya. Sebagai selingan bisa juga diberi udang, cacing, atau jangkrik.

Inilah gambar ayam hutan hijau yang membuat ia diburu orang karena bulunya yang berwarna-warni

Penyakit yang sering menyerangnya berak kapur dan cacingan. Penyakit ini bisa diobati dengan obat cacing yang diberikan pada minumannya, atau tetracol yang dicampurkan pada makanan dan minumannya. Untuk mencegah tetelo, minimal 6 bulan sekali divaksin.

Yang paling penting, harus diusahakan agar ayam tidak stress. Caranya dengan mengusahakan lingkungan yang tenang dan tidak banyak orang lalu-lalang. “Bahkan warna baju perawat kandang yang berbeda dengan yang biasa dipakai sehari-hari juga dapat membuat ayam ini menjadi stress. Kalau sudah mulai stress ayam ini bisa mati dalam waktu singkat,” tutur H. Ali Thamin.

Penyebaran di Indonesia

Ayam hutan hijau banyak terdapat di Jawa Barat bagian Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumbawa, dan NTT bagian Barat. Ayam ini asli Indonesia dan menjadi penghuni hutan-hutan di sekitar perkampungan.

Saat ini populasi di hutan mulai menipis, karena banyak ditangkap orang, terutama yang jantan, sebagai pejantan untuk mendapatkan ayam bekisar, atau untuk hobi dan tidak dikembangbiakkan. Alangkah baiknya mulai saat ini lebih dipikirkan penangkaran ayam hutan ini. Jangan sampai keindahan ayam hutan hijau hanya tinggal kenangan suatu saat nanti.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top